Murtad Termasyhur Menurut Ibnu Taimiyyah

0

Ibnu Taimiyyah mengatakan, apabila dikatakan, sungguh beliau (Nabi saw) telah bersabda dalam hadits, barangsiapa berada pada (jalan) seperti apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya (maka dia pada jalan golongan yang selamat), maka barangsiapa keluar dari jalan itu sesudahnya, tidaklah dia pada jalan golongan yang selamat.

Sungguh telah murtad manusia sesudahnya, maka mereka bukan dari golongan yang selamat. Kami (Ibnu Taimiyyah) katakan, ya. Dan semasyhur-masyhurnya manusia kemurtadannya adalah penentang-penentang Abu Bakar as-Shiddiq ra dan pengikutnya, seperti Musailamah al-Kaddzab dan pengikutnya serta lainnya. Mereka itu diikuti Rafidhoh (Syi’ah) seperti disebutkan hal itu bukan hanya satu dari syekh-syekh mereka seperti Imami ini dan lainnya. Mereka berkata bahwa mereka dulu di atas kebenaran, sedangkan Abu Bakar As-Shiddiq memerangi mereka tanpa hak.

Kemudian di antara manusia yang paling tampak murtadnya adalah al-ghaliyah (yang melampaui batas), yang mereka itu dibakar dengan api oleh Ali ra ketika mereka mendakwa, dalam diri Ali ra ada ketuhanan. Mereka adalah Saba’iyah, pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’ yang menampakkan cacian terhadap Abu Bakar dan Umar.

Orang pertama yang mengaku dirinya sebagai nabi dan menisbatkan dirinya kepada Islam adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid, dia termasuk golongan orang Syi’ah. Maka dikenal bahwa sebesar-besar manusia murtadnya adalah orang-orang di kalangan Syi’ah, kebanyakan di antara mereka ada di seluruh kelompok-kelompok itu, oleh karena itu tidak dikenal kemurtadan yang keadaannya lebih buruk daripada kemurtadan al-gholiyah (yang melampaui batas) seperti Nushairiyah, dan kemurtadan Isma’iliyah Batiniyah dan semacamnya.

Orang yang paling masyhur dalam menyerang orang-orang murtad adalah Abu Bakar As-Shiddiq ra, maka tidak ada orang-orang murtad dalam satu golongan yang lebih banyak daripada yang menentang Abu Bakar As-Shiddiq. Maka hal itu menunjukkan bahwa orang-orang murtad yang masih tetap murtad ke belakang, mereka lebih layak dengan Syi’ah dibanding dengan Ahlus Sunnah waljama’ah. Dan ini jelas diketahui oleh setiap orang yang berakal yang mengenal Islam dan pemeluknya, dan tidak diragukan lagi oleh seorangpun bahwa jenis orang-orang murtad yang menisbatkan diri kepada Syi’ah itu paling besar dan paling keji kekafirannya di antara jenis orang-orang murtad dan orang-orang yang menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah waljama’ah apabila ada di antara mereka yang murtad.

Di antara keutamaan terbesar Abu Bakar di sisi ummat dari awal sampai akhir adalah bahwa dia menyerang orang-orang murtad, dan sebesar-besar manusia kemurtadannya adalah Bani Hanifah (pengikut nabi palsu Musailamah Al-Kaddzab, yang diserang Abu Bakar itu). Abu Bakar menyerang mereka bukan karena mereka enggan berzakat, tetapi dia menyerang mereka karena mereka iman kepada Musailamah al-Kaddzab. Mereka jumlahnya konon sekitar 100.000. Al-Hanifah adalah Ummu Muhammad bin Al-Hanifah, wanita tawanan Ali, dari Bani Hanifah. Dengan ini orang berhujjah/ berargumentasi bolehnya menawan wanita-wanita murtad apabila lelaki-lelaki murtad diperangi. Apabila mereka itu muslimin yang terjaga, maka bagaimana Ali membolehkan untuk menawan wanita-wanita mereka dan menggauli tawanan itu.

Adapun orang-orang yang diperangi Abu Bakar karena enggan membayar zakat, maka mereka itu orang-orang lain, dan mereka bukan orang yang membayar zakat lalu berkata, kami tidak membayar zakat kepadamu, tetapi mereka (memang) menolak membayar zakat sama sekali, maka Abu Bakar menyerang mereka. Karena itu Abu Bakar tidak menyerang mereka agar mereka menyerahkan zakat kepada Abu Bakar As-Shiddiq dan pengikut-pengikutnya. Sebagaimana Ahmad bin Hambal, Abu Hanifah dan lainnya, mereka berkata, apabila mereka (yang enggan berzakat) itu berkata, kami membayar zakat dan tidak membayarnya kepada Imam (Khalifah) maka tidak boleh mereka diperangi. Barangkali mereka (Ahmad, Abu Hanifah, dan lainnya beralasan) karena Abu Bakar As-Shiddiq memerangi mereka hanyalah karena sama sekali tidak membayar zakat, tidak menyerang orang yang berkata, saya membayar zakat dengan diriku sendiri (tidak diserahkan kepada Imam/ Khalifah).

Seandainya pendusta Rafidhoh (Syi’ah) ini dihitung sebagai orang yang termasuk orang-orang yang berpaling dari pembai’atan Abu Bakar, (dihitung dengan) Majusi, Yahudi, dan Nasrani, maka pastilah yang demikian (hitungan bagi pendusta Rafidhoh) itu termasuk jenis hitungan Bani Hanifah. Bahkan kekafiran Bani Hanifah dari sebagian segi lebih besar dari kekafiran Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Karena mereka (Yahudi, Nasrani, dan Majusi) kafir asli, sedang orang-orang (Bani Hanifah pengikut Musailamah Al-Kaddzab) itu murtad. Mereka (Yahudi, Nasrani, dan Majusi) mengakui jizyah (pembayaran upeti untuk jaminan diri mereka terhadap pemerintahan Islam), sedang orang-orang itu tidak mengakui jizyah. Mereka memiliki kitab atau syibhu kitab (serupa kitab) sedang orang-orang itu mengikuti pembuat dusta bohong, tetapi muadzinnya berkata:

“Aku bersaksi bahwa Muhammad dan Musailamah adalah dua utusan Allah.”

Mereka menjadikan Muhammad sama dengan Musailamah.

Perkara Musailamah ini masyhur di seluruh kitab yang di dalamnya menyebutkannya, seperti kitab-kitab hadits, tafsir, maghozi (peperangan) futuh (kemenangan-kemenangan Isalam), fiqih, ushul fiqh, dan ilmu kalam. Perkara ini telah lepas ke gadis-gadis di pingitannya (telah diketahui umum secara luas), bahkan para ahli telah menyendirikan (mengeksklusifkan) mengenai serangan terhadap orang-orang murtad itu dengan kitab-kitab yang dinamakan kitab-kitab riddah (kemurtadan) dan futuh (kemenangan Islam). Seperti Kitab Ar-Riddah oleh Saif bin Umar dan al-Waqidi dan lainnya. Mereka menyebutkan di dalamnya tentang rincian berita-berita orang-orang murtad dan penyerangan terhadap mereka, yang disebutkan sebagaimana didapati pula hal itu seperti di kitab Maghozi Rasul saw (peperangan-peperangan Rasul saw) dan Futuhus Syam (kemenangan Islam di Syam).

Uraian Ibnu Taimiyyah tentang orang-orang murtad sebegitu jelasnya. Beliau katakan masalah masyhurnya berita tentang orang-orang murtad ini sudah lepas sampai ke gadis-gadis pingitan pun mendengarnya. Komentar kami, kaitannya dengan Nurcholish Madjid yang diseratsinya untuk meraih gelar doctor saja menyangkut karya Imam Ibnu Taimiyyah, tetapi ketika ditanya tentang murtad, Nurcholish Madjid hanya mengangapnya mundur, karena sebenarnya dulu Islam ini yang memimpin dunia, sedang Barat maju itu baru 200-an tahun belakangan ini. Jawaban Nurcholish tentang murtad itu sangat jauh dari pengertian umum secara Islam, apalagi secara uraian Imam Ibnu Taimiyyah. Keanehan dari jawaban Nurcholish Madjid itu baru bisa jelas duduk soalnya ketika kita baca uraian Ibnu Taimiyyah tentang murtad seperti yang telah kita bicarakan ini.#

Dikutip dari: Ada Pemurtadan Di IAIN; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.