Menyembunyikan Aib Barang

0

Suatu hari rosulullah shollaulohu alaihi wassalam lewat di samping sebuah gundukan makanan (sejenis gandum). Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam gundukan makanan tersebut sehingga jari-jarinya basah. Beliau bertanya: “Apakah ini wahai pedagang makanan?”, ia menjawab: “Basah karena kehujanan, wahai rasulullah.”. Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

“Kenapa tidak kau letakkan di (bagian) atas makanan, sehingga orang-orang dapat melihatnya? Barangsiapa yang curang, maka ia tidak termasuk golongan kami.”[1]

Pada saat ini banyak pedagang yang tidak takut kepada Allat ta’ala dengan menyembunyikan aib barang. Misalnya dengan memberinya lem perekat, atau meletakkannya di bagian bawah kotak barang, atau menggunakan zat kimia atau semacamnya sehingga barang tersebut tampak bagus.

Jika berupa barang-barang elektronik, mungkin dengan menyembunyikan cacat pada komponen tertentu, sehingga ketika barang itu dibawa pulang oleh pembeli, tak lama kemudian barang itu rusak.

Sebagian penjual ada yang mengubah tanggal kadaluarsa penggunaan barang, atau menolak pembeli yang ingin meneliti barang atau mencobanya.

Betapa banyak kita saksikan orang-orang yang menjual mobil atau peralatan lainnya, tidak mau menerangkan cacat barang yang hendak dijualnya. Semua ini hukumnya haram.

Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak halal bagi seorang muslim menjual barang kepada saudaranya yang di dalamnya ada cacat, kecuali ia menerangkan cacat tersebut.”[2]

Sebagian orang mengira, menjual secara lelang dengan serta merta akan melepaskan dirinya dari tanggung jawab soal aib barang. Misalnya dengan mengatakan kepada pembeli, “Saya jual kepada anda setumpuk besi…saya jual kepada anda setumpuk besi.”

Tidak, justru menjual barang seperti itu (dengan tanpa menerangkan cacat barang), juga yang sejenisnya adalah perdagangan yang tidak diberkahi.

Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

“Kedua orang yang sedang jual beli adalah dalam khiyar (pilihan) selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menerangkan (aib barang), maka jual beli keduanya diberkahi. Tetapi jika keduanya berdusta dan menyembunyikan (aib barang). Maka dihapuslah berkah jual beli keduanya.”[3]

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

[1] Hadits riwayat Muslim; 1/99.

[2] Hadits riwayat Ibnu Majah; 2/754, Shahihul Jami’; 6705.

[3] Hadits riwayat Bukhari, Lihat Fathul Bari; 4/318.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.