Menerima Hadiah Setelah Menolong

0

Pangkat dan kedudukan di tengah manusia –jika disyukuri- merupakan salah satu nikmat Allah ta’ala atas hamba-Nya. Di antara cara bersyukur atas nikmat ini adalah dengan menggunakan pangkat dan kedudukan tersebut buat mashlahat dan kepentingan umat. Ini merupakan realisasi dari sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Barangsiapa di antara kalian bias member manfaat kepada saudaranya, hendaknya ia lakukan.[1]

Orang yang dengan pangkatnya bisa memberikan manfaat kepada saudaranya sesama muslim, baik dalam mencegah kezhaliman daripadanya atau mendatangkan manfaat untuknya –jika niatnya ikhlas- tanpa diikuti dengan perbuatan haram, atau merugikan orang lain, maka ia akan mendapat pahala di sisi Allah ta’ala. Berdasarkan sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Berilah pertolongan, niscaya kalian diberi pahala.[2]

Tetapi ia tidak boleh mengambil upah dari pertolongan dan perantaraan yang ia berikan. Ini berdasarkan hadits marfu’ dari Abu Umamah radhiallahu anhu:

Barangsiapa memberi pertolongan kepada seseorang, lalu ia diberi hadiah (atas pertolongan itu), kemudian ia (mau) menerimanya, sungguh ia telah mendatangi pintu yang besar di antara pintu-pintu riba.[3]

Sebagian orang menggunakan pangkat dan jabatannya untuk mengeruk keuntungan materi. Misalnya dengan mensyaratkan imbalan dalam pengangkatan kepegawaian seseorang, atau dalam memindah tugaskan pegawai dari satu daerah ke daerah lain, atau juga dalam mengobati pasien yang sakit, dalam hal ini yang semacamnya.

Menurut pendapat yang kuat, imbalan yang diterimanya itu hukumnya haram. Berdasarkan hadits Abu Umamah radhiallahu anhu, sebagaimana telah disebutkan di atas. Bahkan secara umum hadits ini mencakup pula penerimaan imbalan yang tidak disyaratkan di muka.[4] Cukuplah orang yang berbuat baik itu mengharap imbalannya dari Allah ta’ala kelak pada hari kiamat.

Suatu hari seorang laki-laki dating kepada Al-Hasan bin Sahal meminta pertolongan dalam suatu keperluan, sehingga ditolongnya. Laki-laki itu berterima kasih kepada Al-Hasan. Tetapi Al-Hasan bin Sahal berkata: “Atas dasar apa engkau berterimakasih kepada kami? Kami memandang bahwasannya pangkat wajib dizakati, sebagaimana harta wajib dizakati.[5]

Perlu dicatat, ada perbedaan antara mengupah dan menyewa seseorang untuk melakukan tugas, mengawasi atau menyempurnakannya dengan menggunakan pangkat dan kedudukannya untuk tujuan materi. Yang pertama, jika memenuhi persyaratan syari’at diperbolehkan karena termasuk dalam bab sewa menyewa, sedangkan yang kedua hukumnya haram.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Muslim; 4/1726.

[2] Hadits riwayat Abu Daud; 5132, hadits ini terdapat dalam shahihain, Fathul bari; 10/450, kitab adab; bab ta’awanul mukminin ba’dhuhum ba’dhan.

[3] Hadits riwayat Ahmad; 5/261, Shahihul Jami’; 6292.

[4] Diambil dari keterangan lisan Syaikh Abdul Aziz bin Baz secara lisan.

[5] Al-Adab Asy-Syar’iyyah oleh Ibnu Muflih: 2/176.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.