Mendengarkan dan Menikmati Musik

0

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu bersumpah dengan nama Allah ta’ala bahwa yang dimaksud dengan firman Allah ta’ala:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Luqman: 6). Adalah nyanyian.[1]

Abu Amr dan Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu meriwayatkan, bersabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Kelak aka nada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan alat-alat musik.[2]

Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu. Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Kelak akan terjadi pada umat ini (tiga hal): (mereka) di tenggelamkan (ke dalam bumi), dihujani dengan batu dan dirubah bentuk mereka. Yaitu jika mereka minum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (memainkan) musik.[3]

Nabi shollaulohu  alaihi wassalam melarang gendang, lalu menyatakan; Seruling adalah suara orang jahil (bodoh) dan ahli maksiat. Para ulama terdahulu seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berdasarkan hadits-hadts shahih yang melarang alat-alat musik secara mutlak, telah menetapkan haramnya alat-alat musik seperti, kecapi, seruling, rebab, simbab dan yang lainnya.

Tidak diragukan lagi, alat-alat musik modern yang kita kenal saat inil, masuk dalam kategori alat-alat musik yang dilarang oleh nabi shollaulohu alaihi wassalam. Seperti; piano, biola, harpa, guitar dan sebagainya.

Bahkan alat-alat musik modern tersebut lebih cepat mempengaruhi mabuknya jika daripada alat-alat musik jaman dahulu yang telah diharamkan dalam beberapa hadits.

Menurut penuturan para ulama, di antranya Ibnul Qayyim rahimahullah:

Keterlenaan dan mabuknya jiwa akibat pengaruh nynyian lebih besar bahayanya dari pada akibat minum arak. Kemudian tak diragukan lagi, pelanggarannya akan lebih keras dan dosanya akan lebih besar jika alat-alat musik tersebut diiringi dengan nyanyian, baik oleh biduan atau biduan wanita. Lalu, bahayanya akan lebih bertumpuk jika untaian kata-kata syairnya berkisah tentang cinta, asmara, kecantikan wanita atau ketampanan pria.[4]

Karena itu tidak mengherankan jika para ulama menyebutkan, nyanyian adalah jalan/sarana yang dapat menghantarkan pada perbuatan zina, menumbuhkan perasaan nifak di dalam hati. Secara umum, nyanyian dan music adalah tema besar jaman ini yang melahirkan banyak fitnah.

Musibah itu semakin menjadi-jadi, setelah pada jaman ini kita saksikan musik menyelusup ke setiap barang dan ruang. Seperti jam dinding, bel, mainan anak-anak, computer, pesawat telepon dan sebagainya.

Untuk menghindari berbagai hal di atas sungguh memerlukan kekuatan hati yang tangguh. Mudah-mudahan Allah ta’ala menjadi penolong bagi kita semua. Amin.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Tafsir Ibnu Katsir: 6/333.

[2] Hadits riwayat Bukhari,, lihat Fathul Bari; 10/51.

[3] As-Silsilah Ash-Shahihah; 2203, diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At-Tirmidzi; No.: 2212.

[4] Saat ini bahkan kita kenal istilah dakwah lewat musik. Adakah pencampur-adukan antara kebenaran dan kebatilan yang lebih nyata dari ini?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.