Mencintai Allah dan Rasul-Nya Lebih Daripada Yang Lain

0

Mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi yang lainnya merupakan adab yang sangat agung kepada Allah ta’ala dan rasul-|Nya shollaulohu alaihi wassalam. Asal dari cinta ini adalah ketika seorang mukmin menyaksikan dengan mata hati dan bashiroh-nya keagungan kekuasaan Allah ta’ala dan hikmah-Nya, juga ilmu dan keagungan-Nya, ketika dia mengimani sifat-sifat Allah ta’ala yang indah dan sempurna, yang bersih dari segala aib dan cela; ketika dia melihat dengan mata bashirah-nya sifat-sifat Allah yang mulia dan sempurna; dan melihat kesantunan Allah ta’ala yang tidak menyegerakan adzab dan hukuman kepada para pelaku maksiat, bahkan Dia menangguhkan dan sabar terhadapnya. Di samping itu, ketika ia menyaksikan rahmat Allah yang Mahaluas, yaitu Dia melimpahkan rizki kepada para hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir, dan tidak memutus limpahan rizki itu disebabkan dosa-dosa mereka. Sesungguhnya Allah adalah pemilik keutamaan yang agung atas manusia dan pemilik segala nikmat dalam kehidupan mereka, sebagaimana firman-Nya:

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (QS. An-Nahl: 53).

Dialah yang telah menciptakan manusia dari ketiadaan sebagaimana Dia lah yang mengatur segala urusan manusia serta menetapkan syari’at yang membawa kemaslahatan bagi agama dan dunia mereka. Ketika seorang mukmin menyaksikan itu semua, niscaya hatinya akan dipenuhi oleh rasa cinta kepada Allah. Cinta yang tiada habisnya. Cinta yang membawa pemiliknya untuk mentaati Allah dengan ketaatan yang mutlak. Pemilik cerita itu akan selalu berusaha untuk meraih keridhaan-Nya dengan melakukan segala yang Allah ridhai dan meninggalkan segala perkara yang Dia benci.

Sudah seharusnya cinta ini mengalahkan seluruh cinta yang lain dan menjadi asal dari semua cinta sehingga seluruh cinta kepada Allah merupakan cabang darinya. Allah ta’ala berfirman:

Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 165).

Sementara nabi shollaulohu alaihi wassalam, beliau adalah manusia yang paling banyak kebaikannya. Beliau datang untuk menyampaikan syariat dan agama Allah ta’ala, serta mengajak kepada jalan yang lurus, yakni jalan menuju surge, dan kepada seluruh kebaikan. Di samping itu, beliau memperingatkan manusia dari jalan yang buruk, yakni neraka. Beliau telah mengerahkan segala daya untuk itu dan upaya beliau tidak kurang dalam menyampaikan kebenaran. Setiap muslim di ala mini merupakan hasil dakwah Muhammad shollaulohu alaihi wassalam. Oleh karena itulah, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk mencintai Allah dan rasul-Nya lebih daripada selainnya, sebagaimana sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam dalam sebuah hadits:

Tidak perkara yang dengannya seseorang dapat merasakan manisnya iman: Allah dan rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya.[1]

Hendaknya pula nabi shollaulohu alaihi wassalam menjadi makhluk yang paling dicintai oleh seorang muslim, sebagaimana sabda beliau shollaulohu alaihi wassalam:

Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.[2]

Maka jika seorang mukmin, menyaksikan itu semua, mengimaninya, dan mengakuinya dalam hati, niscaya hatinya akan dipenuhi rasa cinta kepada Allah ta’ala dan cinta kepada Rasul-Nya shollaulohu alaihi wassalam. Cinta yang tidak tertandingin dan tersaingi oleh cinta yang lain, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang orang-orang yang beriman:

Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 165).

Maka dari itu, rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya melebihi cintanya kepada isteri dan anaknya, bahkan melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Sampai-sampai, seluruh cintanya kepada yang lain merupakan cabang dari cinta kepada Allah. Tidaklah ia mencintainya kecuali billah (karena Allah), lillah (untuk Allah) dan fillah (di jalan Allah). Cinta inilah yang menjadikan ia mencintai orang-orang yang shalih karena mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah. Selain itu, menjadikan ia cinta kepada amal-amal shalih karena itu merupakan suatu yang dicintai Allah ta’ala dan dapat menolongnya untuk mencintai-Nya. Dengan demikian, cinta kepada Allah ta’ala merupakan tanggung jawab setiap hamba, yang mempengaruhi seluruh cintanya serta menjadi sumber semua ucapan dan perbuatannya.

Sudah selayaknya bagi seorang hamba mengetahui bahwasannya ia tidak akan dapat mencintai Allah kecuali jika didahului oleh cinta Allah kepada dirinya. Karena sesungguhnya jika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk mencinta-Nya dan membantu hamba tersebut untuk mendapatkannya. Jika seorang hamba bersungguh-sungguh untuk mendapatkan cinta ini, maka akan bertambahlah cinta Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. (QS. Al-Maidah: 54).

Allah ta’ala mendahulukan penyebutan cinta-Nya kepada mereka sebelum cinta mereka kepada Allah. Meskipun huruf wau tidak selalu memberikan arti tertib, namun urutan yang disebutkan dalam ayat ini mengisyaratkan kepada apa yang kami sebutkan. Allahu a’lam.

Bagaiman tidak cinta kepada Allah ta’ala dalam hati seorang mukmin dapat mengalahkan cinta kepada selain-Nya? Bagaimana tidak hatinya dipenuhi dengan cinta itu hingga menyibukkannya dari mencintai selain-Nya? Allah ta’ala adalah Dzat yang paling banyak berbuat kebaikan dan memberikan nikmat kepada manusia, paling pemaaf terhadap kesalahan-kesalahan mereka, dan paling santun terhadap kejahilan mereka. Dia telah memuliakan manusia atas semua makhluk. Dialah yang menciptakan mereka dari ketiadaan dan melimpahkan kepada mereka berbagai macam kenikmatan. Bukankah semua itu akan menumbuhkan rasa cinta yang sempurna, yang khusus kepada Allah ta’ala dalam hati seorang mukmin?

Bagaimana pula tidak cinta kepada nabi shollaulohu alaihi wassalam melebihi cintanya kepada semua makhluk, sedangkan seorang muslim mengetahui keutamaan beliau, cinta Allah kepada beliau dan kebaikan beliau kepada segenap makhluk, hingga menjadikan rasulullah sebagai orang yang paling ia cintai?

Cinta kepada Allah dan rasul-Nya ini akan membuahkan hasil yang sangat banyak, di antaranya:

  1. Seorang mukmin hanya akan mencintai orang-orang shalih karena mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah ta’ala.
  2. Seorang mukmin akan mencintai amal-amal shalih berupa amal kebaikan, kebajikan dan ketaatan. Sebab, semua itu dicintai oleh Allah dan dapat menolongnya untuk meraih cinta kepada Allah ta’ala.
  3. Seorang mukmin akan membenci segala apa yang dibenci oleh Allah ta’ala, yakni orang-orang kafir, munafik, para pelaku maksiat dan amal-amal keburukan. Sebab, Allah membenci semua itu dan membenci penganutnya. Sesungguhnya seorang yang mencintai sesuatu tentu hasratnya akan mengikuti keridhaan yang dicintainya.
  4. Bersegera melaksanakan segala kewajiban karena itu adalah perintah Allah ta’ala, tidak bermalas-malasan mengerjakannya. Kemudian, menambahnya dengan memperbanyak amalan-amalan nafilah (sunah) karena semua itu akan menolongnya untuk meraih cinta Allah, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:

Barangsiapa memerangi wali-Ku, maka aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai daripada perkara-perkara yang telah Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia bertindak dan kaki yang dengannya ia melangkah.[3]

  1. Menjauhi kemaksiatan dan segala perkara yang mendatangkan kemarahan Allah ta’ala karena semua itu dibenci oleh-Nya. Orang yang benar-benar mencintai Allah tidak akan mungkin mendurhakai-Nya atau berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kemurkaan-Nya. Sebaliknya, ia akan selalu melakukan apa yang dicintai oleh Allah dan meninggalkan apa yang Dia benci. Sungguh bagus ucapan seseorang yang mengatakan:

Engkau mendurhakai Allah, sementara engkau menampakkan kecintaan kepada-Nya;

Ini adalah suatu permisalan yang buruk;

Seandainya tulus cintamu, niscaya engkau akan mentaatinya;

Sesungguhnya orang yang mencintai pasti akan taat kepada yang dicintainya;

  1. Bersemangat untuk mengikuti sunah rasulullah shollaulohu alaihi wassalam, berpegang teguh dengannya dan tidak meninggalkan atau menjauhinya. Sebab, hal itu merupakan bukti ketulusan cinta keapda Allah ta’ala dan cinta kepada rasulullah shollaulohu alaihi wassalam serta menjadi penolong untuk mendapatkan cinta-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31).

Selain itu, berusaha menghindari serta berhati-hati dari menyelisihi sunah nabi shollaulohu alaihi wassalam atau terjatuh pada perkara yang menyelisihinya.

  1. Banyak berdzikir kepada Allah ta’ala. Sebab, barangsiapa yang mencintai sesuatu dan cintanya itu bertambah, niscaya dia akan banyak mengingatnya. Tidak akan hilang dari ingatannya meskipun hanya sekejap. Maka jika telah sempurna rasa cinta kepada Allah dalam hati seorang mukmin, niscaya ia akan terus-menerus berdzikir kepada Allah ta’ala dengan hati maupun lisannya. Dia akan memperbanyak dzikir kepada-Nya dan selalu melakukannya hingga tidak pernah terlepas darinya. Rasa cinta kepada Allah ta’ala telah menguasai seluruh anggota badannya. Berdzikir ini merupakan sebab terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, perkara yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba mukmin, dan untuk keistiqamahan seluruh anggota badannya.

Allah ta’ala berfirman:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28).

Maka hati dan lisan seorang mukmin selalu sibuk dengan dzikir, dan perkara-perkara yagn merupakan bagian darinya, seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istigfar, doa dan tilawah Al-Qur’an; serta cabang darinya, seperti amar ma’ruf nahi munkar, dakwah kepada Allah, kalimah thayyiah (ucapan-ucapan yang baik) dan lain sebagainya.

  1. Memperbanyak shalawat kepada nabi shollaulohu alaihi wassalam. Hal itu merupakan buah dari cinta yang dalam kepada nabi dalam hati seorang mukmin dan buah dari ma’rifah seorang mukmin terhadap keutamaan bershalawat kepada beliau shollaulohu alaihi wassalam.
  2. Penjagaan seorang mukmin terhadap perintah-perintah Allah ta’ala pada anggota badannya, yaitu dengan selalu bersemangat melakukan ketaatan dan menjauhi segala bentuk maksiat, hingga seluruh gerak ataupun diamnya senantiasa disertai rasa cinta kepada Allah ta’ala. Tidaklah bergerak anggota badannya kecuali untuk sesuatu yang diridhai Allah. Hal ini dibenarkan oleh firman Allah ta’ala dalam sebuah hadits qudsi:

Maka jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dengannya ia  mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia bertindak dan kaki yang dengannya, ia melangkah. Jika ia meminta, niscaya akan Aku kabulkan dan jika ia meminta perlindungan, niscaya akan Aku lindungi.[4]

Dalam riwayat lain, disebutkan:

Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat dan dengan-Ku ia bertindak.”

Maksudnya bahwa seluruh anggota badan tidak bergerak kecuali atas dasar cinta kepada Allah ta’ala. Tidaklah ia berusaha kecuali dalam perkara yang dicintai oleh Allah ta’ala berupa amal-amal kebaikan, kebajikan dan ketaatan.

  1. Penjagaan Allah terhadap hamba yang mukmin. Sebab, seseorang yang mencintai-Nya dengan sebenar-benar cinta niscaya Allah akan mencintainya. Barangsiapa yang dicintai Allah ta’ala, niscaya Dia akan menjaganya dari segala keburukan. Barangsiapa menjaga perintah dan larangan Allah, niscaya Allah akan menjaganya, sebagaimana sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassala:

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu.[5]

Dalam riwayat lain: Di depanmu…

  1. Allah akan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang mukmin dan memberikan apa yang ia minta. Ini merupakan buah dari cinta Allah ta’ala kepada hamba-Nya, yang merupakan konsekuensi dari cinta hamba kepada Rabb nya. Yakni, Dia akan mengabulkan apa yang ia minta, melindunginya dari apa yang ia minta perlindungan darinya, dan menjauhkannya dari perkara yang ia benci-kecuali yang memang telah Allah takdirkan menimpanya. Hal ini dibenarkan oleh firman Allah ta’ala dalam sebuah hadits qudsi:

Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku lindungi.[6]

Semua itu tidak akan diperoleh kecuali setelah seorang hamba mencintai Allah ta’ala.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Bukhari (16-21) dan Muslim (43) dari Anas radhiallahu anhu.

[2] HR. Bukhari (15) dan Muslim (44) dari Anas radhiallahu anhu.

[3] HE. Bukhari (6502) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu.

[4] HR. Bukhari (6502) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu.

[5] HR. Ahmad (I/306), At-Tirmidzi (2516) dan dia berkata, “Hasan Shahih.”  Al-Hakim (III/541) dan lain-lain dengan lafadz yang hampir sama dari Ibnu Abbas. Lihat kitab Shahihul Jami’ (7957).

[6] Telah berlalu takhrijnya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.