Memakan Harta Haram

0

Orang yang tidak takut kepada Allah ta’ala, tentu tak peduli dari mana harta dan bagaimana ia menggunakannya. Yang menjadi pikirannya siang dan malam hanyalah bagaimana menambah simpanannya meski berupa harta haram, baik dari hasil pencurian, suap, ghasab (merampas), pemalsuan, penjualan sesuatu yang haram, kegiatan ribawi, memakan harta anak yatim, atau gaji dari pekerjaan haram seperti perdukunan, pelacuran, menyanyi, korupsi dari baitul mal umat islam atau harta milik umum, mengambil harta orang lain secara paksa, atau meminta di saat berkecukupan dan sebagainya.

Lalu dengan harta haram itu ia makan, berpakaian, berkendaraan, membangun rumah, atau menyewanya, melengkapi perabotannya, serta membuncitkan perutnya dengan hal-hal yang haram tersebut. Padahal rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.[1]

Pada hari kiamat ia akan ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan bagaimana ia menggunakannya. Di sana tentu ia akan mengalami kerugian dan kebinasaan yang besar.

Karena itu, orang yang memiliki harta dari yang haram hendaknya ia segera berlepas diri daripadanya. Jika merupakan hak antar manusia, maka ia harus segera mengembalikannya kepada yang berhak, dengan memohon maaf dan kerelaan, sebelum datang suatu hari yang hutang-piutang tidak lagi dibayar dengan uang, tetapi dengan pahala atau dosa.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Thabrani dalam Al-Kabir, 19/136, Shahihul Jami’; 4495.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.