Malu Itu Ada Yang Baik dan Ada Yang Jelek

0

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu – yakni malu mengerjakan kejahatan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan.”

(Muttafaq ‘alaih)

Keterangan:

Malu itu ada yang baik dan ada yang jelek. Malu menjalani sesuatu kemunkaran dan kemaksiatan atau umumnya larangan agama atau hal-hal yang syubhat adalah terpuji dan sangat baik. Tetapi malu menjalankan ketaatan kepada Allah, misalnya malu bersembahyang karena baru saja menyadari kebenaran beragama, malu pergi ke masjid, malu kalau tidak suka diajak berdansa-dansi, malu kalau menolak berjabatan tangan dengan wanita (bagi seorang lelaki), semuanya itu adalah tercela dan tidak ada kebaikannya samasekali.

Dalam hal ini ada sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari yang diterima dan’ Abu Mas’ud yaitu Uqbah al-Anshari, mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya di antara hal-hal yang ditemui (didapatkan) dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: Apabila kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki.”

Adapun Hadis di atas itu mengandung pengertian sebagai ancaman atau untuk menakut-nakuti pada seseorang yang hendak berbuat semau-maunya. Jadr maksudnya ialah: “Kalau kamu tidak malu kepada Allah dalam melakukan kemunkaran dan kemaksiatan itu, terserahlah, kamu boleh melakukan apa-apa yang kamu inginkan dan sesuka hatimulah.

Tetapi ingatlah bahwa setiap sesuatu itu ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat.” Ada pula sebagian alim-ulama yang berpendapat bahwa maksud Hadis di atas itu adalah untuk menunjukkan kebolehan sesuatu kelakuan. Jelasnya: “Kalau kamu hendak melakukan sesuatu, sekiranya kamu tidak malu kepada Allah dan para manusia, sebab memang bukan larangan agama, baik sajalah kamu lakukan. Tetapi sekalipun agama membolehkan, kalau kamu malu, tidak kamu lakukanpun baik juga jikalau hal itu termasuk sesuatuyawaz (yakni bukan hal yang wajib atau sunnah). Jadi baik dilakukan atau ditinggalkan sama saja bolehnya.”

Dikutip dari: Riyadus Shalihin-Taman 0rang-orang Shalih; Imam Nawawi.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.