Laki-laki menyerupai Wanita Atau Sebaliknya

0

Di antara fitrah yang disyariatkan Allah ta’ala kepada hamba-Nya yaitu agar laki-laki menjaga sifat kelakiannya seperti yang diciptakan Allah ta’ala.

Wanita agar menjaga sifat kewanitaannya seperti yang diciptakan Allah ta’ala. Hal ini merupakan salah satu sifat penting yang dimana dengannya kehidupan manusia berjalan normal.

Laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki adalah menyalahi fitrah, membuka pintu kerusakan serta menyebarkan kepincangan dalam tatanan hidup masyarakat. Hukum semua perbuatan itu adalah haram.

Jika suatu nash syar’i menyebutkan laknat terhadap suatu kaum karena melakukan perbuatan tertentu, maka itu menunjukkan keharaman perbuatan tersebut, maka ia termasuk dosa besar.

Dalam hadits marfu’ riwayat Ibnu Abbas radhiallahu anhu disebutkan:

“Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”[1]

Dalam hadits lain juga Ibnu Abbas radhiallahu anhu meriwayatkan:

“Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam melaknat laki-laki yang bertingkahlaku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki.”[2]

Penyerupaan yang dimaksud bersifat umum. Misalnya di dalam melakukan gerakan tubuh, dalam berbicara, dalam berjalan dan di dalam seluruh gerak diam.

Termasuk di dalamnya cara berpakaian dan berdandan. Laki-laki tidak dibolehkan memakai kalung, gelang, anting, gelang kaki dan sebagainya. Ironisnya, ini yang banyak kita saksikan, sebab semua itu merupakan perhiasan wanita.

Demikian juga sebaliknya, wanita tidak dibolehkan memakai pakaian yang khusus digunakan laki-laki. Misalnya kemeja, baju atau pakaian khusus untuk pria lainnya. Masing-masing hendaknya menjaga perbedaan jenisnya, dengan memakai pakaian sesuai dengan fitrahnya. Dalil yang mewajibkan hal tersebut adalah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu:

“Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.”[3]

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 10/332.

[2] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 10/333.

[3] Hadits riwayat Abu Daud; 4/355, Shahihul Jami’; 5071.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.