Kelemahan Pokok Islam Liberal

0

    Kalau itu yang disebut Islam Liberal, atau sebangsa yang menolak jilbab dan sebagainya, maka pantas kalau mendapatkan dampratan dari umat Islam.

Hanya sayangnya, kenapa di Indonesia, bahkan di dunia Islam, pemikiran semacam itu, (“berbahaya karena sederhana”) justru diangkat-angkat bahkan diposisikan sebagai pembaharu, yang dalam bahasa Arabnya adalah mujaddid, yang hal itu punya kedudukan tinggi dalam Islam? Padahal, kenyataan pemikiran yang mereka sebarkan adalah satu bentuk pemikiran yang punya kelemahan-kelemahan pokok:

  1. Tidak punya landasan/ dalil yang benar.

  1. Tidak punya paradigma ilmiyah yang bisa dipertanggung jawabkan.

  1. Tidak mengakui realita yang tampak nyata.

  1. Tidak mengakui sejarah yang benar adanya.

  1. Tidak punya rujukan yang bisa dipertanggung jawabkan.

Kelemahan-kelemahan itu bisa dibagi dua:

Lemah dari segi metode keilmuan.

Lemah dari segi tinjauan keyakinan atau teologis.

Lemah dari segi ilmiyah atau realita kebenaran itu dalam Al-Qur’an ada gambarannya, yaitu fatamorgana disangka air.

“…laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (An-Nuur/ 24: 39).

   Lemah dari segi aqidah digambarkan dalam Al-Qur’an bagai rumah labah-labah, selemah-lemah rumah.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabuut/ 29: 41).

Dua-dua kelemahan itu ketika dibangun berbentuk sebuah bangunan maka ujudnya adalah pembangunan masjid dhiror, yang harus dihancurkan dengan cara dibakar. Sedang pembangunnya diancam neraka yang akan dimasukkan ke dalamnya beserta reruntuhan bangunan yang mereka buat. Masjid dhiror itu sendiri diibaratkan bangunan di tepi jurang yang runtuh, dan jadi pangkal keraguan dalam hati mereka

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dhalim.

Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (QS At-Taubah/ 9: 109-110).

    Meskipun banyak kelemahannya, namun karena pelontarnya itu adalah orang yang sudah kadung dianggap sebagai tokoh intelektual, maka dianggap sebagai pemikiran baru dan maju. Padahal sebenarnya jauh sekali dari kebenaran ilmiyah maupun kebenaran agama yang berdasarkan dalil/ nash ayat dan hadits.

    Kalau pentolannya saja modelnya begitu, maka yang lain-lain, baik yang sudah meninggal maupun yang masih menjalani hidupnya, kurang lebihnya pendapat mereka seperti yang dilontarkan Ahmad Wahib dan disunting serta disebarkan oleh Djohan Effendi, Dawam Rahardjo dan lainnya. Di antara isi lontaran itu adalah membuyarkan sumber Islam, dikembalikan kepada sejarah. Sebagaimana uraian berikut ini.

 

Ahmad Wahib Menafikan Al-Qur’an & Hadits

sebagai Dasar Islam

   Setelah  Ahmad Wahib berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya dengan  dugaan-dugaan,  “menurut saya” atau “saya pikir”, tanpa dilandasi  dalil sama  sekali,  lalu di bagian lain, dalam Catatan   Harian  Ahmad Wahib ia mencoba menafikan Al-Qur’an dan Hadits  sebagai  dasar Islam. Dia ungkapkan sebagai berikut:

    Kutipan:

   ” Menurut saya sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau katakanlah  bahan-bahan dasar ajaran Islam, bukanlah  Qur’an  dan Hadits melainkan Sejarah Muhammad. Bunyi Qur’an dan Hadits adalah sebagian  dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad  yang  berupa kata-kata  yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri. Sumber  sejarah yang lain dari Sejarah Muhammad ialah: struktur masyarakat,  pola pemerintahannya,  hubungan  luar  negerinya,  adat   istiadatnya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya dan  lain-lainnya.” (Catatan Harian Ahmad Wahib, hal 110, tertanggal 17 April 1970).

   Tanggapan:

      Ungkapan tersebut mengandung pernyataan yang aneka macam.

  1. Menduga-duga bahwa bahan-bahan dasar ajaran Islam bukanlah Al-Quran dan  Hadits Nabi saw. Ini menafikan  Al-Quran  dan  Hadits sebagai dasar Islam.

  1. Al-Qur’an dan Hadits adalah kata-kata yang dikeluarkan  oleh Muhammad  itu  sendiri.  Ini mengandung makna  yang  rancu,  bisa difahami  bahwa itu kata-kata Muhammad belaka. Ini berbahaya  dan menyesatkan.  Karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah  SWT  yang dibawa  oleh  Malaikat Jibril, disampaikan kepada  Nabi  Muhammad saw,  diturunkan secara berangsur-angsur selama 22  tahun  lebih. Jadi  Al-Qur’an  itu Kalamullah, perkataan Allah,  bukan  sekadar kata-kata  yang  dikeluarkan Muhammad itu  sendiri  seperti  yang dituduhkan Ahmad Wahib.

Allah SWT menantang orang yang ragu-ragu:

“Dan jika kamu  (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”  (QS Al-Baqarah: 23).

  1. Al-Qur’an dan Hadits dia anggap hanya sebagian dari sumber sejarah Muhammad, jadi hanya bagian dari sumber ajaran Islam,  yaitu  Sejarah Muhammad.  Ini  akal-akalan  Ahmad Wahib  ataupun  Djohan Effendi,  tanpa berlandaskan dalil.

  1. Al-Qur’an dan Hadits disejajarkan dengan  iklim  Arab,  adat istiadat Arab dan lain-lain yang nilainya hanya sebagai bagian dari Sejarah Muhammad. Ini  menganggap Kalamullah dan wahyu senilai dengan  iklim  Arab, adat  Arab  dan sebagainya. Benar-benar pemikiran  yang  tak  bisa membedakan mana emas dan mana tembaga. Siapapun tidak akan  menilai  berdosa  apabila melanggar adat Arab. Tetapi  siapapun  yang konsekuen dengan Islam pasti akan menilai berdosa apabila melang­gar  Al-Qur’an ddan AAs-Sunnah. Jadi tulisan Ahmad Wahib  yang  di­sunting  Djohan  Effendi iitu jjelas mmerusak pemahaman  Islam  dari akarnya.  Ini sangat berbahaya, karena landasan Islam  yakni  Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Hadits telah dianggap bukan landasan Islam, dan hanya setingkat dengan adat Arab.   Mau ke mana arah pemikiran duga-duga tapi sangat merusak Islam semacam ini?

  Pandangan-pandangan berbahaya semacam itulah yang diangkat-angkat orang pluralis (menganggap semua agama itu paralel, sama, sejalan menuju keselamatan, dan kita tidak boleh melihat agama orang lain pakai agama yang kita peluk) yang belakangan menamakan diri sebagai Islam Liberal.

Tokoh-tokoh Islam Liberal

   Siapa sajakah yang mereka daftar sebagai Islam Liberal?

Dalam internet milik mereka, ada sejumlah nama. Kami kutip sebagai berikut:

“Beberapa nama kontributor JIL (Jaringan Islam Liberal, pen) adalah sebagai berikut:

     Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.

     Charles Kurzman, University of North Carolina.

     Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

     Abdallah Laroui, Muhammad V University, Maroko.

     Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta.

     Goenawan Mohammad, Majalah Tempo, Jakarta.

     Edward Said

     Djohan Effendi, Deakin University, Australia.

     Abdullah Ahmad an-Naim, University of Khartoum, Sudan.

     Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung.

     Asghar Ali Engineer.

    Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

    Mohammed Arkoun, University of Sorbone, Prancis.

    Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta.

   Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah.

   Said Agil Siraj, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Jakarta.

   Denny JA, Universitas Jayabaya, Jakarta.

   Rizal Mallarangeng, CSIS, Jakarta.

   Budi Munawar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta.

   Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS.

   Taufiq Adnan Amal, IAIN Alauddin, Ujung Pandang.

   Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta.

   Ulil Abshar Abdalla, Lakpesdam-NU, Jakarta.

   Luthfi Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta.

   Saiful Mujani, Ohio State University, AS.

   Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok –Jakarta.

   Syamsurizal Panggabean, Universitas Gajahmada, Yogyakarta.

     Mereka itu diperlukan untuk mengkampanyekan program penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif. Program itu mereka sebut “Jaringan Islam Liberal” (JIL).

   Penyebaran gagasan keagamaan yang pluralis dan inklusif itu di antaranya disiarkan oleh Kantor Berita Radio 68H yang diikuti 10 Radio; 4 di Jabotabek (Jakarta Bogor, Tangerang, Bekasi) dan 6 di daerah.

    Di antaranya Radio At-Tahiriyah di Jakarta yang menyebut dirinya FM Muslim dan berada di sarang NU tradisionalis pimpinan Suryani Taher, dan juga Radio Unisi di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dua Radio Islam itu ternyata sebagai alat penyebaran Islam Liberal, yang fahamnya adalah pluralis, semua agama itu sama/ paralel, dan kita tak boleh memandang agama lain dengan pakai agama kita. Sedang faham inklusif adalah sama dengan pluralis, hanya saja memandang agama lain dengan agama yang kita peluk. Dan itu masih dikritik oleh orang pluralis.

Bahaya Islam Liberal; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.