Kedudukan Adab Dalam Pandangan Salaf

0

Telah disebutkan dari para ulama salaf tentang pujian terhadap adab dan ahlinya, keutamaan serta dorongan kepadanya. Banyak sekali riwayat dan penukilan yang menjelaskan kedudukan adab dalam pandangan mereka.

Di antaranya adalah:

Habib Al-Jalab berkata, “Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak, ‘Apakah sebaik-baik perkara yang diberikan kepada seseorang?’ Dia menjawab, ‘Akal yang cerdas.’ Aku berkata, ‘Kalau tidak bisa?’ Dia menjawab, ‘Adab yang baik.’ Aku berkata, ‘Kalau tidak bisa?’ Dia menjawab, ‘Saudara penyayang yang selalu bermusyawarah dengannya.’ Aku berkata, ‘Kalau tidak bisa?’ Dia menjawab. ‘Diam yang panjang.’ Aku berkata, ‘Kalau tidak bisa?’ Dia menjawab, ‘Kematian yang segera.’”[1]

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang ingin Allah membukakan hatinya atau meneranginya, hendaklah ia ber-khalwat (menyendiri), sedikit makan, meninggalkan pergaulan dengan orang-orang yang bodoh dan membenci ahli ilmu yang tidak memiliki inshaf (sikap objekif) dan adab.”[2]

Ibnu Sirin berkata, “Para salaf mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”[3]

Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki keluar untuk menuntut ilmu adab baginya selama dua tahun, kemudian dua tahun.”[4]

Habib bin Asy-Syahid berkata kepada anaknya, “Wahai, anakku, pergaulilah para fuqaha’ dan ulama; belajarlah dan ambillah adab dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak hadits.”[5]

Seorang salaf berkata kepada anaknya, “Wahai, anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab dari ilmu.”[6]

Mukhallad bin Al-Husain berkata kepada Ibnul Mubarak, “Kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits.”[7]

Dikatakan kepada Imam Asy-syafi’i, “Bagaimana hasratmu terhadap adab?” Dia menjawab, “Aku mendengar satu huruf dari adab yang belum pernah aku dengar maka seluruh anggota badanku ingin memiliki pendengaran hingga dapat merasakan kenikmatan mendengarnya.” Dikatakan, “Bagaimana keinginanmu untuk mendapatkannya?” Dia menjawab, “Seperti keinginan seorang wanita kehilangan anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya.”[8]

Abu Bakar Al-Mithawa’i rahimahullah berkata, “Aku bolak-balik kepada Abu Abdillah- yakni Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah- selama sepuluh tahun. Beliau membacakan kitab Al-Musnad kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satu pun hadits darinya. Aku hanya melihat pada adab dan akhlak beliau.”[9]

Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan, “Bahwasannya majelis Imam Ahmad dihadiri oleh lima ribu orang. Lima ratus di antaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak dan adab beliau.”[10]

Ibnul Mubarak berkata:

Aku telah mencoba diriku

Maka aku tidak mendapatkan baginya

Sesuatu yang lebih bermanfaat

Setelah takwa kepada Allah daripada adab

Dalam setiap kondisinya meski jiwaku tidak suka, selalu lebih baik daripada diamnya dari berbuat bohong

Atau mengghibahi manusia

Sesungguhnya ghibah telah diharamkan

Oleh yang Mahamulia dalam kitab-kitab

Aku katakana pada diriku: “Taatlah”

Dan aku memaksanya

Kesantunan dan ilmu adalah perhiasan

Bagi orang  yang memiliki kemuliaan

Seandainya ucapanmu itu dari perak, wahai diri,

Maka diam adalah dari emas.[11]

Ibnul Mubarak juga berkata, “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu selama dua puluh tahun. Adalah para salaf mempelajari adab, baru kemudian mempelajari ilmu.”

Al-Qarafi rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al-Faruq, ketika menjelaskan kedudukan adab, “Ketahuilah bahwasannya sedikit adab lebih baik daripada banyak amal. Oleh karena itulah, Ruwaiyin –seorang alim yang shalih- berkata kepada anaknya, ‘Wahai, anakku, jadikanlah amalmu ibarat garam dan adabmu ibarat tepung. Yakni,  perbanyaklah adab hingga perbandingan banyaknya seperti perbandingan tepung dan garam –dalam suatu adonan. Banyak adab dengan sedikit amal shalih lebih baik daripada amal dengan sedikit adab.”[12]

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] Siyar A’laamin Nubalaa’ (VIII/397).

[2] Muqaddimah Al-Majmuu’ Syarah Muhadzdzab (I/31).

[3] Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim (hlm. 2).

[4] Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim (hlm. 2).

[5] Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim (hlm. 2).

[6] Ibid (hlm. 3).

[7] Ibid (hlm. 3).

[8] Ibid (hlm. 3).

[9] Siyar A’laamin Nubalaa’ (XI/316).

[10] Ibid (XI/316).

[11] Al-Masdar As-Sabiq (VIII/416).

[12] Al-Faruq (III/96, IV/272).

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.