Isbal

0

Di antara hal yang sering di anggap remeh oleh manusia, sedangkan dalam pandangan Allah ta’ala merupakan masalah besar adalah soal isbal, yaitu menurunkan atau memanjangkan pakaian hingga di bawah mata kaki. Sebagian ada yang pakaiannya hingga menyentuh tanah, sebagian ada yang sampai menyapu debu yang ada di belakangnya.

Abu Dzar radhiallahu anhu meriwayatkan, bahwasannya rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Tiga (golongan manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah ta’ala pada hari kiamat, tidak pula dilihat dan disucikan serta bagi mereka siksa yang pedih. Yaitu; musbil (orang yang memanjangkan pakaiannya hingga di bawah mata kaki), dalam sebuah riwayat dikatakan: “Musbil kainnya. Lalu (kedua) mannan. Dalam riwayat dikatakan: yaitu orang-orang yang tidak memberi sesuatu kecuali ia mengungkit-ungkitnya. (Ketiga) orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.”[1]

Orang yang berdalih: “Saya melakukan isbal tidak dengan niat takabbur (sombong).” Padahal sebenarnya ia hanya ingin membela diri yang tidak pada tempatnya. Ancaman untuk musbil adalah mutlak dan umum, baik dengan maksud takabbur atau tidak. Sebagaimana ditegaskan dalam sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Kain (yang memanjang) di bawah mata kaki, tempatnya adalah di neraka.[2]

Jika seseorang melakukan isbal dengan niat takabbur, maka siksanya akan lebih keras dan berat, yaitu termasuk dalam sabda nabi shollaulohu alaihi wassalam:

Barangsiapa menarik bajunya dengan takabbur, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.[3]

Sebab dengan begitu ia telah melakukan dua hal yang diharamkan sekaligus, yakni isbal dan takabbur. Isbal diharamkan dalam semua pakaian, sebagaimana ditegaskan oleh rasulullah shollaulohu alaihi wassalam yang diriwayatkan Ibnu Umar radhiallahu anhu:

Isbal itu dalam kain (sarung), gamis (baju panjang) dan sorban. Barangsiapa yang menarik daripadanya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.[4]

Adapun wanita, mereka diperbolehkan menurunkan pakaiannya sebatas satu jengkal atau sehasta untuk menutupi kedua telakap kakinya, sebab ditakutkan akan tersingkap oleh angin atau lainnya. Tetapi tidak dibolehkan melebihi yang wajar seperti umumnya busana pengantin yang panjangnya di tanah hingga beberapa meter, bahkan mungkin kainnya harus ada yang membawakan dari belakangnya.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits Riwayat Muslim; 1/102.

[2] Hadits riwayat Ahmad; 6/254, Shahihul Jami’; 5571.

[3] Hadits riwayat Bukhari; 3/465.

[4] Hadits riwayat Abu Daud; 4/353, Shahihul Jami’; 2770.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.