IAIN Dibuat Nyeleneh dari Sini?

0

Pendapat nyeleneh (aneh) tampaknya marak di mana-mana, dan masyarakat menuding IAIN-IAIN se-Indonesia (beserta STAIN-STAIN) sebagai penyemai bibit-bibit kenyelenehan. Kenyelenehan itu bukan sekadar sampai pada tingkat pemikiran, namun sudah sampai pada pelaksanaan, pengamalan dan praktek. Sekadar contoh, bisa dikemukakan sebagai berikut:

  1. Dr Nurcholish Madjid guru besar IAIN Jakarta, pendiri Yayasan Paramadina Jakarta, alumni Barat (Chicago Amerika), telah menikahkan anak puterinya, Nadia, dengan lelaki Yahudi di Amerika, 30 September 2001, tidak dengan akad Islam, tapi akad universal, yaitu antara anak manusia dengan anak manusia.

  1. Dr Kautsar Azhari Noer dosen IAIN (kini UIN) Jakarta menikahkan Ahmad Nurcholish (Muslim) anggota pengurus YISC (Youth Islamic Study Club) Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta dengan wanita Konghuchu, Ang Mei Yong. Pernikahan Muslim dengan wanita kafir ini dilangsungkan di Islamic Center Paramadina Pondok Indah Plaza III Blok F 5-7 Jl TB Simatupang Jakarta, Ahad 8 Juni 2003. Yayasan Paramadina ini didirikan oleh Nurcholish Madjid dan kawan-kawannya, kini dipimpin Azyumardi Azra yang juga rector UIN Jakarta.

  1. Zainun Kamal dosen UIN Jakarta telah menikahkan wanita Muslimah dengan lelaki Kristen di sebuah hotel di Pondok Indah, Jakarta, Ahad 27 November 2004M, Syawal 1425H, dengan diberkati pendeta.

  1. Drs Nuryamin Aini, MA, pengajar Fakultas Syari’ah UIN Jakarta menyudutkan para ulama (sebenarnya menyudutkan Islam) yang mengharamkan pernikahan beda agama (Islam dengan non Islam). Penyudutan itu hanya dengan dalih hasil penelitiannya mengenai anak-anak hasil pernikahan beda agama, katanya lebih banyak yang ikut ke Islam. Ungkapan yang ditujukan kepada para ulama namun hakekatnya kepada Islam itu adalah hasil wawancara Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL dengan Nuryamin Aini yang disiarkan lewat islamlib.com. Perlu dipertanyakan kepadanya, kalau anak-anak hasil dari pasangan zina justru banyak yang beragama Islam, apakah berarti larangan zina dalam Islam itu satu hal yang tidak benar? Betapa anehnya cara beristinbath (menyimpulkan hukum) model ngawur-ngawuran dan merusak agama seperti itu.

  1. Dosen-dosen IAIN/UIN yang tergabung dalam tim penulis Paramadina Jakarta, menulis buku Fiqih Lintas Agama, 2003, yang sangat merusak aqidah Islam, dari Tauhid diarahkan ke kemusyrikan dengan istilah pluralisme agama, dan memutarbalikkan hukum Islam, yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan. Tim Penulis Paramadina itu sebagian adalah dosen-dosen UIN Jakarta. Semuanya terdiri 9 orang: Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. Buku yang menjungkir balikkan pemahaman Islam itu telah saya bantah dengan buku yang berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA, 2004.

  1. Ada dosen IAIN Jogjakarta yang diam-diam icli (bergegas) ke seorang tokoh di Salatiga Jawa Tengah yang mendirikan rumah ibadah untuk semua agama. Pendiri bangunan yang disebut “rumah ibadah bersama” itu pun bekas dosen STAIN Salatiga. Dia khabarnya dikenal sebagai teman Gus Dur, sama-sama dari Irak, bernama Mahfudz Ridwan. Ada yang bilang, setelah kandas di perpolitikan kemudian dia mendirikan rumah ibadah bersama (untuk aneka agama) itu. Dosen IAIN Jogjakarta yang icli ke Mahfudz itu konon menolak pendapat orang yang menilai bahwa model seperti itu sesat. Padahal, di Al-Qur’an maupun hadits sudah jelas. Di antaranya Allah mengancam jangan sampai cenderung kepada faham yang tidak sesuai dengan wahyu Allah swt. Dan ada hadits Nabi saw yang melarang adanya dua kiblat di satu tempat. Dua kiblat saja tidak boleh, apalagi kalau aneka agama maka berarti kiblatnya juga bukan hanya dua. Islam berkiblat ke Ka’bah Baitullah, dari Salatiga itu berarti kiblatnya di arah barat agak miring kanan. Lalu kiblat orang Nasrani di arah timur. Kiblat orang Yahudi di Qubbatus Shokhro Baitul Makdis, barat laut. Yang beragama Sinto mungkin menghadap ke matahari terbit. Kenapa sudah jelas-jelas seperti itu tidak boleh dibilang sesat? Allah swt mengancam:

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS Al-Israa’: 73, 74, 75).

Nabi saw tidak membolehkan adanya dua kiblat dalam satu tempat:

Tidak layak ada dua kiblat di satu bumi. (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Abu Daud, sanadnya tsiqot).

Lagi pula, membuat satu tempat ibadah untuk aneka agama itu benar-benar bertentangan dengan ayat:

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS Al-Kafirun: 1-6).

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4).

  1. Beberapa dosen IAIN Jogjakarta berpartisipasi bahkan ada yang ikut menulis buku apa yang mereka beri judul Negara Tuhan; The Thematic Encyclopaedia, SR-Ins Publising, Jogjakarta, 2004. Buku itu dalam pengantarnya beberapa kali ditegaskan bahwa isinya ilmiah. Bahkan dengan bangganya dicantumkan syair sebagai penutup iftitahnya:

“Sesungguhnya meski saya bukanlah yang pertama memulainya, tapi saya yakin dapat menghadirkan sesuatu yang tidak pernah dihadirkan oleh mereka para pendahulu.” (halaman xiv).

Ada pula klaim yang ditulis dalam iftitahnya: “Betapapun, ini semua merupakan ijtihad ilmiah SR-Ins yang jika benar (As-Sawab) akan mendapatkan profit dua poin (Ajrani) dan seandainya salah maka satu poin mujahadah ilmiah (lahu Ajrun) telah terkantongi.” (halaman xiv).

Yang perlu dipertanyakan kepada mereka, apakah benar ini ilmiah, ijtihad, dan akan mengantongi pahala (ajrun)? Sebab ada ungkapan yang kemungkinan sekali merusak itu semua, di antaranya apa yang ditulis dalam Iftitah: “Meski kami yakin bahwa Tuhan kami sangat dan pasti mempunyai kemampuan untuk memaksa hamba-Nya, namun jika kemudian ada pemaksaan nilai-nilai kultur suatu bangsa misalnya pengharusan pakaian khas Arab yang bernama “Jubah dan Surban” untuk menggantikan “Sorjan dan Blangkon” Jogja atas nama “Tuhan”, maka kami akan mengadakan “kudeta teologis” dan menggantinya dengan Tuhan yang baru.” (halaman x-xi).

Saya tidak mampu mengomentari perkataan semacam itu kecuali hanya ingat ayat tentang celoteh orang kafir di akherat ketika menghadapi siksa Allah swt:

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS An-Naba’: 40).

Setahu saya, dosen IAIN Jogjakarta yang ikut menulis dalam buku itu belum pernah memakai sorjan atau blangkon Jogjakarta, padahal saya selama lima tahun bergaul dengannya. Di samping itu, ketika budaya barat yang mengumbar aurat telah membabat kain panjang pakaian wanita Jogja dengan pengaruh budaya orang bule dan ditirukan masyarakat, belum pernah ada protes dari para penulis buku Negara Tuhan itu untuk mengganti orang-orang bule dengan orang bule baru. Kata-kata “Tuhan yang baru” itu sendiri adalah sangat rawan dalam aqidah. Tapi ya sudah, itulah mutu orang-orang yang mengaku ilmiah, ijtihad, dan mengantongi pahala satu yang mereka sebut profit.

  1. Dalam hal kristenisasi, buku Jihad Kristen karangan Pendeta Dr Josias L Lengkong M.TH, di antaranya ada salah satu kesimpulan dalam bentuk usulan yang bunyinya sebagai berikut: “Umat Islam dan Kristen perlu memikirkan kemungkinan membentuk sebuah wadah untuk pengembangan etos kerja jihad yang bisa saja disebut Jihad Pancasila, atau Jihad Nusantara…” (Jihad Kristen, halaman 346).

Ajakan pendeta Kristen itu ternyata diamini oleh tokoh Islam dan disalurkan lewat makalah seminar 3 April 2004 yang diadakan oleh Pusaka di Padang (yang dibiayai lembaga orang kafir dari Amerika, The Asia Foundation) yaitu Dr H Saifullah SA, MA, Dosen Pasca Sarjana IAIN Padang, alumni IAIN Jakarta, dalam makalahnya berjudul Jihad Islam, ia menulis: “Saya mendukung deklarasi pembentukan “Mujahidin Nusantara” yang menggabungkan antar komunitas dan etnis serta agama yang hidup di Indonesia.”

Komentar kami, kalau pendeta telah mengaburkan makna Jihad dalam Islam, lalu mengajak umat Islam untuk membentuk wadah jihad model pemahaman yang sudah diubah-ubah itu, kemudian tokoh Islam mengamininya, maka Islam ini dianggap sebagai apa? Apakah Islam ini sekadar barang mainan?

Dalam hal mengacak-acak Islam, ada yang lebih gila lagi. Journal Relief terbitan UGM (yang advisornya Achmad Mursyidi, dibiayai pula oleh The Asia Foundation) menyebarkan faham yang sangat memurtadkan, ditulis di cover belakang majalah/journal Relief kutipan pernyataan seorang dosen IAIN Jogjakarta:

“…kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan.” (cover belakang Majalah Relief, vol 1, No 2, Yogyakarta, Mei 2003).

Ungkapan itu bertentangan dengan firman Allah:

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (QS Al-Anbiya’: 23).

Ungkapan di majalah/ Journal Relief itu kalau dikaitkan dengan ucapan Iblis maka akan berbunyi : Kenapa saya (Iblis) disuruh bersujud kepada Adam, toh Tuhan sendiri tidak bersujud kepada Adam.

Kalau dikaitkan dengan perintah-perintah ibadah, menyembah hanya kepada Allah, maka akan diucapkan: Kenapa saya harus menyembah Allah, toh Allah sendiri tidak menyembah siapa-siapa.

Itulah logika yang lebih kurang ajar daripada Iblis itu sendiri. Na’udzubillaahi min dzaalik!

Dikutip dari: Ada Pemurtadan Di IAIN; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.