Dosen IAIN Pemicu Maraknya Nikah Beda Agama

0

Masalah pernikahan beda agama, maraknya pun di antaranya dipicu oleh orang IAIN. Yaitu dosen IAIN Jakarta (kini UIN, Universitas Islam Negeri Jakarta) Fakultas Ushuluddin, aktivis Paramadina, Dr Zainun Kamal asal Sumatera Barat.

Dia berani menyiarkan pendapatnya bahwa wanita Muslimah boleh dinikahi oleh lelaki Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani). Pendapatnya yang bukan sekadar nyeleneh tapi sudah menabrak syari’at Islam itu ditangkap secara baik oleh orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal), hingga disiarkan lewat media massa mereka di antaranya Kantor Berita Radio 68H Utan Kayu Jakarta yang direlay 200-an pemancar radio di Indonesia, koran-koran yang menginduk kepada Jawa Pos/ Tempo sekitar 56 koran se-Indonesia, dan website Islam Liberal, islamlib.com, Juli 2002.

Menanggapi penghalalan yang haram oleh Dr Zainun Kamal itu, Dahlan Basri dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengatakan, Nabi Muhammad mengajarkan rukun iman ada 6, Harun Nasution (guru besar IAIN Jakarta) bilang 5, Zainun Kamal (murid Harun Nasution) bilang 2. “Inilah orangnya,” kata Dahlan Basri dalam diskusi di Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, 26 Agustus 2002 dengan pembicara Dr Zainun Kamal, tentang pernikahan beda agama.

Kenapa sampai para pelontar kenyelenehan itu kini seberani itu, mari kita tengok kembali upaya-upaya memu’tazilahkan IAIN yang dilakukan oleh Harun Nasution dan kader-kadernya. Kini kadernya seperti Dr Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Kamaruddin Hidayat, Zainun Kamal dan lainnya adalah orang-orang yang bisa dilihat sebagai orang-orang yang dekat dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang pada hakekatnya adalah melancarkan pemurtadan berlabel Islam. Karena “aqidah” JIL adalah pluralisme agama, yakni menyejajarkan dan memparalelkan semua agama, semua menuju keselamatan, hanya beda teknis. Bahkan kita tidak boleh melihat agama lain dengan memakai agama yang kita peluk.

Upaya menyelenehkan IAIN itu masih ditambah dengan petinggi-petinggi atau dosen-dosen IAIN lainnya yang gigih memasarkan kenyelenehan, di antaranya seperti Abdul Munir Mulkhan dan Amin Abdullah di IAIN Yogya dan Muhammadiyah Yogya, Mathar dan Taufik Adnan Amal di IAIN Alauddin Makassar dan nama-nama lain yang tak sulit dijumpai di berbagai IAIN, STAIN, dan Perguruan Tinggi Islam lainnya. Hanya saja tentu tidak semuanya nyeleneh, seperti Kepala STAIN Serang Banten yang saya sempat jadi pembicara dalam suatu seminar bersamanya, tampaknya beliau tidak termasuk yang nyeleneh ataupun JIL. Juga Dr Fatkhur Rahman Jamil dosen UIN Jakarta yang saya pernah jadi mahasiswanya di UMJ, atau Dr Roem Rawi di IAIN Surabaya, Syekhul Hadi Permono direktur Pascasarjana IAIN Surabaya dan tentu masih banyak lagi yang lainnya, hanya saja mereka tidak dimunculkan oleh media massa, di satu sisi, dan tidak diuntungkan oleh system pendidikan/ pengajaran serta lingkungannya yang mengarah ke pengganyangan terhadap Ahlus Sunnah dan menuju kepada pluralisme agama. Sehingga yang terjadi adalah pemandangan aneh lagi memprihatinkan sebagaimana dikemukakan oleh Adian Husainsi di Kajian Islam Cibubur di Pesantren Husnayain Pasar Rebo Jakarta Timur, 2 Februari 2005/ 22 Dzulhijjah 1425H. Kata Adian, Pak Syekhul Hadi Permono (murid Prof Hasbi as-Shiddiqi waktu di IAIN Jogjakarta) direktur Pascasarjana IAIN Surabaya mengadakan forum untuk menghadapi faham liberal dan pluralisme agama. Tetapi ternyata walaupun dia itu direktur, tidak bisa berbuat banyak, karena bawahannya, dosen-dosennya kebanyakan justru berfaham liberal, pluralisme agama, dan mengikuti metode hermeneutika. Maka akhirnya forum yang dibentuk untuk menghadapi faham liberal itupun bubar.

Gambaran yang bisa dikemukakan pula, di IAIN Jakarta ketika ada pemilihan rector tahun 2002, ada pemandangan yang sangat mencolok. Khabarnya Azyumardi Azra yang telah dikenal sebagai kontributor JIL, terpilih kembali dengan suara mayoritas, sedang calon lain yang dikenal memegangi syari’ah (Islam) dengan teguh, hanya mendapatkan suara kurang dari sepuluh pemilih. Sehingga perbedaannya sangat-sangat jauh. Yang tokoh dari liberal mendapatkan suara beberapa ratus, sedang tokoh yang bukan liberal, dan hanya sekadar punya isteri lebih dari satu, tidak sampai berjulukan fondamentalis pun hanya mendapat suara beberapa gelintir. Kalau dibanding-banding, tampaknya orang-orang politik yang secara sekilas merupakan cerminan ketidak pedulian terhadap agamanya, di sini justru masih mending dibanding mental dosen-dosen IAIN Jakarta itu dalam hal memilih pemimpin. Buktinya, Hamzah Haz yang berbini lebih dari satu, masih mereka pilih hingga jadi Wakil Presiden masa Megawati. Tetapi di IAIN Jakarta, ternyata yang berbini dua benar-benar tersingkirkan dari kancah peraihan kursi rector akibat dijauhi oleh dosen-dosen yang berhak memilih.

Dikutip dari: Ada Pemurtadan Di IAIN; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.