Campur Tangan Pemimpin-Pemimpin Agama Dari Giri/Gresik Di Daerah-Daerah Seberang Lautan Pada Abad Ke-16

0

Para pelaut dan para pedagang Gresik telah memperkenalkan nama Giri dalam abad ke-16 dan ke-17 di pantai-pantai banyak pulau di bagian timur Nusantara. Sejak zaman Sunan Prapen kekuasaan para pemimpin agama dari Giri ternyata mendominasi Gresik. Tidak ada berita-berita dari paruh kedua abad ke-16 yang mengabarkan adanya kekuasaan duniawi yang merdeka di kota pelabuhan itu.

Dalam kisah-kisah di Lombok, Giri mempunyai kedudukan penting. Pangeran Prapen, anak Susuhunan Ratu di Giri, disebut dengan nama jelas. Dengan armadanya ia singgah lebih dulu di Pulau Sulat dan Sungian. la telah memaksa raja “kafir” di Teluk Lombok mengakui kekuasaan Islam. Kemudian ia telah memasuki Tanah Sasak di barat daya. Kemudian ia berlayar ke Sumbawa dan Bima. Dalam ekspedisi yang kedua, orang-orang Jawa Islam menduduki kota Kerajaan Lombok, Selaparang. Rencana mereka merebut Bali Selatan dari sebelah timur, demi penyebaran kebudayaan dan ekonomi Jawa dan untuk agama Islam, rupanya terpaksa dibatalkan karena mendapat perlawanan berat dari Dewa Agung, raja Gelgel.

Mungkin raja itu adalah Dewa Agung Batu Renggong yang konon pada pertengahan abad ke-16 melawan usaha-usaha mengislamkan dirinya. Menurut cerita tutur Bali, ia tidak mempunyai hubungan baik dengan penguasa-penguasa Islam di Jawa. Namun dalam hal ini Giril Gresik tidak disebut.

Menurut cerita setempat, usaha pengislaman di Makassar dilaksanakan oleh kegiatan seseorang dari Minangkabau, yang bernama Dato ri Bandang. Dahulu ia murid pemimpin agama di Giri, dan menurut Babad Lombok bahkan ia masih mempunyai hubungan kerabat dengan keluarga Giri (mungkin karena perkawinan). Jadi, pengaruh Giri juga sampai di Sulawesi Selatan.

Menurut cerita sejarah di Kutai, Dato ri Bandang – disebut juga Tuan di Bandang dan sama orangnya dengan yang telah giat bekerja di Makassar – berjuang juga di Kalimantan Timur untuk penyebaran agama Islam.

Di Kalimantan Selatan keluarga raja Banjarmasin telah beralih ke agama Islam berkat pengaruh Demak. Hal itu mungkin sudah terjadi pada paruh pertama abad ke-16, pada masa sebelum kekuasaan Giri berkembang.

Tetapi cerita setempat di Pasir, di Kalimantan Selatan memberitakan juga adanya perkawinan antara “pangeran-pangeran” Giri dengan putri-putri setempat. Karena Raja Matan dari Sukadana, yang mulai memerintah pada tahun 1590, memakai nama Giri Kusuma, diduga ada pula pengaruh Giri di sana.

Berita-berita yang panjang lebar dan besar jumlahnya mengenai hubungan antara Giri/Gresik dan Indonesia bagian timur terdapat dalam cerita-cerita dari pulau-pulau itu sendiri. Sebagian besar cerita itu telah dihimpun oleh Pendeta Valentijn dalam bukunya mirip suatu ensiklopedi berjudul Oud en Nieuw Oost-Indien. Perlu dicatat di sini orang suci Islam dan pendiri “negeri” (negorij) Tengah-tengah, yang makamnya di Kailolo sekarang masih dihormati, dipanggil Usman. Anehnya, seorang Usman atau Ngusman juga disebut-sebut dalam Sadjarah Dalem dalam bab tentang keturunan orang suci di Surabaya, Sunan Ngampel Denta. Ngusman ini, anak seorang cendekiawan agama dari Gresik, kawin dengan anak perempuan Sunan Katib di Ngampel Denta. la diberitakan telah menetap di Maluku (Pulo Moloko). Istrinya (mungkin jandanya), sekembalinya di Jawa, diberi sebutan Nyai Gede Moloko. Memang benar bahwa yang dimaksud dahulu dengan nama Maluku (Pulo Moloko) bukan Tengah-tengah dan Kailolo yang lebih selatan letaknya. Ketidaktelitian ini tidak terlalu penting; Usman dari Kailolo dan Ngusman Jawa boleh dianggap sama orangnya. Mungkin Nyai Gede Moloko di Jawa dalam Sadjarah Dalem juga sama orangnya dengan Mahadum Ibu Kali Tuwa, seorang wanita terkemuka yang bersama dengan “Perdana Pati” Tuban telah berlayar dari Hitu ke Jawa.

Menurut cerita yang dicatat oleh Valentijn, orang-orang Hitu baru pada tahun 1565 mengadakan perjanjian dengan “Raja Giri” atau “Raja Bukit” untuk mendapat perlindungan terhadap orang-orang Portugis. Prajurit-prajurit Jawa selama kurang lebih 3 tahun telah tinggal di suatu tempat yang bertahun-tahun sesudah itu masih disebut “Kota Jawa”.

Raja Ternate, Zainu’I-Abidin, yang memerintah mulai tahun 1486 sampai 1500, pernah menjadi seorang penguasa di Giri (Satmata?) ketika masih putra mahkota. Tentang pemuda Ternate ini diceritakan bahwa ia dengan satu tetakan pedangnya membelah kepala seorang Jawa yang mengamuk dan mau menyerang Sri Sunan Giri. Pedangnya itu membelah sebuah batu karang, yang bertahun-tahun sesudah itu masih kelihatan bekasnya.

Pada abad ke-17, hubungan Giri dengan Hitu dan tempat-tempat lain di Indonesia bagian timur sering diadakan. Pada permulaan abad itu tidak jarang orang Belanda bercerita tentang seorang pemimpin agama yang mereka namakan “Pans Islam”. Dalam karya raksasanya (Valentijn, Oud en Nieuw), Valentijn sering menyampaikan berita tentang “Raja-Imam”. la dapat menyebutkan nama semua desa di sekitarnya yang termasuk daerah Giri. Tetapi dalam tinjauan ini tentang sejarah abad ke-16 tidak terungkap sejarah kelanjutan “kerajaan imam” ini. Kemerdekaannya hilang disebabkan oleh siasat politik raja-raja Mataram yang dengan kekerasan ingin memaksa semua daerah di tanah Jawa mengakui kekuasaannya.

Dikutip dari Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.