Berhutang Dengan Niat Tidak Membayar

0

Dalam pandangan Allah ta’ala, hak-hak hamba adalah sangat besar nilainya. Seseorang bisa saja bebas dari hak Allah ta’ala hanya dengan bertaubat. Tetapi tidak demikian halnya dengan hak yang berkaitan dengan hamba. Hak-hak yang berkaitan antar sesama manusia –yang belum terselesaikan- kelak akan diadili pada hari yang utang-piutang tidak dibayar dengan dinar atau dirham, tetapi dibayar dengan pahala atau dosa. Dalam kaitan ha kantar sesama manusia Allah ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. (QS. An-Nisa: 58).

Diantara masalah yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah gampang berhutang. Ironisnya, sebagian orang berhutang tidak karena kebutuhan mendesak, tetapi untuk memenuhi kebutuhan luks atau berlomba dengan tetangga-tetangganya. Misalnya dalam membeli mobil model baru, perkakas rumah tangga atau berbagai kesenangan lainnya yang bersifat duniawi dan fana. Sebagian orang tak segan-segan membeli barang-barang secara kredit yang sebagiannya tak lepas dari syubhat atau sesuatu yang haram.

Mudah dalam berhutang akan menyeret seseorang pada kebiasaan menunda-nunda pembayaran, atau malah mengakibatkan hilangnya barang orang lain. Memperingatkan akibat perbuatan ini, rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa yang mengambil (atau berhutang) dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah ta’ala akan melunaskan hutangnya. Barangsiapa mengambil (berhutang) dengan keinginan untuk merugikannya (tidak membayar), niscaya Allah ta’ala akan benar-benar membinasakannya.[1]

Banyak orang yang meremehkan soal hutang piutang, mereka menganggapnya masalah yang remeh, padahal di sisi Allah ta’ala hutang-piutang merupakan masalah yang besar. Bahkan hingga seorang syahid sekalipun yang memiliki beberapa keistimewaan yang agung, pahala yang besar dan derajat yang tinggi, tidak bisa lepas dari urusan hutang-piutang.

Dalil yang menegaskan hal tersebut adalah sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Mahasuci Allah, betapa kerasnya apa yang diturunkan Allah dalam urusan hutang-piutang. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki terbunuh di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, lalu terbunuh (lagi) kemudian dihidupkan lagi, lalu terbunuh (lagi), sedang ia memiliki hutang, sungguh ia tak akan masuk surga sehingga dibayarkan untuknya hutang tersebut.[2]

Setelah mengetahui hal ini, masih tak pedulikah orang-orang yang menggampangkan urusan hutang-piutang?

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 5/54.

[2] Hadits riwayat Nasa’i, lihat Al-Mujtaba; 7/314, Shahihul Jami’; 3594.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.