Bentuk-bentuk Penyimpangan Di Balik Acara Maulid

0

Pada umumnya, di samping acara-acara ini memang bid’ah, seringkali, di beberapa negara, diwarnai hal-hal mungkar lainnya, seperti campur aduknya pria dan wanita, pementasan nyanyian-nyanyian dan instrument-instrument musik, minuman-minuman keras dan narkotika serta ragam kekejian lainnya.

Kadang-kadang terjadi kemungkaran yang lebih besar dari itu semua, yaitu syirik besar. Syirik ini terselubung dalam sikap berlebihan (ghuluw) terhadap rasulullah shollaulohu alaihi wassalam atau terhadap para wali, pemujaan dan pemanjatan doa kepada nabi shollaulohu alaihi wassalam, permohonan selamat kepada beliau, permintaan kekuatan kepada beliau, keyakinan bahwa beliau mengetahui yang ghaib dan hal-hal lain yang menyeret pelakunya menjadi kafir.

Dalam hadits shahih rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Hindarilah sikap berlebihan dalam (pengamalan) agama, tiada lain sikap berlebihan dalam (pengamalan) agama telah menjadikan binasanya umat sebelum kamu.

Rasulullah juga telah bersabda:

Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku sebagaimana orang-orang nasrani telah berlebihan memuji (Isa) putera Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Karenanya sebutlah (aku) hamba Allah dan rasul-Nya. (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya).

Yang mengherankan adalah bahwa banyak orang sibuk dan bersikeras untuk menghadiri acara-acara pertemuan maulid dan semacamnya yang bid’ah ini dan mempertahankan serta membelanya. Sementara mereka absen menghadiri shalat jum’at dan shalat jama’ah yang hukumnya wajib. Mereka acuh tak mengangkat kepala sedikitpun untuk memenuhi panggilan shalat jum’at atau shalat jama’ah. Anehnya dalam kondisi seperti ini ia tidak merasa melakukan kemungkaran yang besar. Tidak diragukan, bahwa ini adalah akibat lemahnya iman, tipisnya ilmu dan menebalnya bintik-bintik noda di hati oleh sebab berbagai dosa dan kemaksiatan. Kita panjatkan permohonan kepada Allah, kiranya Dia mengaruniai kita dan segenap umat islam kesejahteraan lahir dan batin.

Lebih aneh lagi sebagian mereka berkeyakinan bahwa rasulullah shollaulohu alaihi wassalam hadir dalam acara maulid itu. Karenanya, mereka berdiri untuk memberikan salam kehormatan dan ucapan marhaban (selamat datang).

Ini adalah suatu klimaks kebatilan dan seburuk-buruk kebodohan. Karena rasulullah shollaulohu alaihi wassalam tidaklah keluar dari kuburan beliau sebelum hari kiamat, tidak pula berkomunikasi dengan manusia, serta tidak juga menghadiri pertemuan-pertemuan yang mereka adakan. Bahkan sebaliknya, beliau menetap di kuburan rampai hari kiamat. Sedang ruh suci beliau disemayamkan di tingkat teratas di “Illiyyin” di istana kemuliaan (dar al-karamah) di sisi Allah.

Allah berfirman:

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS. Al-Mu’minun: 15-16).

Nabi shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Aku adalah orang yang pertama kuburnya terbelah dan terbuka di hari kiamat. Aku adalah orang yang pertama member syafaat dan orang pertama yang diberi wewenang untuk memberikan syafa’at.

Ayat dan hadits di atas, juga ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya menunjukkan bahwa nabi shollaulohu alaihi wassalam dan orang-orangyang telah mati lainnya, mereka hanyalah dapat keluar dari kuburan mereka pada hari kiamat. Ini menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama’ dan tidak ada perselisihan pendapat di antara mereka.

Oleh sebab itu, seyogyanya seorang muslim memiliki kepekaan terhadap hal-hal semacam ini dan hendaknya waspada terhadap aneka bid’ah dan khurafat yang diada-adakan oleh orang-orang bodoh atau semacamnya yang tidak pernah Allah menurunkan hujjah yang mendukung hal itu.

Adapun bershalawat dan mengucapkan salam kepada rasulullah shollaulohu alaihi wassalam adalah termasuk ibadah yang paling utama dan salah satu dari sekian amal shalih. Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56).

Nabi shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat (dengan melimpahkan rahmat-Nya) kepadanya sepuluh kali.

Bershalawat ini disyari’atkan di setiap waktu, bershalawat sangat ditekankan untuk dilakukan pada akhir setiap shalat. Bahkan menurut kebanyakan ulama’ wajib dilakukan di tahiyat akhir pada setiap shalat, sunnah muakadah dilakukan di banyak tempat, di antaranya: seusai adzan, di saat nama beliau shollaulohu alaihi wassalam disebut, pada malam jum’at dan berikutnya di hari jum’at, sebagaimana dijelaskan banyak hadits.

Inilah hal-hal yang saya maksudkan untuk dijelaskan masalah ini. Kiranya cukup jelas bagi orang yang dibuka dan diterangi mata hatinya oleh Allah.

Sumber:

Kewajiban Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah dan Waspada Terhadap Bid’ah; Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; Islamic Propagation Office In Rabwah.

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.