Anjuran Mempelajari Kitab Suci Lama

0

Setelah nyata ketidakakuratan pemahaman Nurcholish dalam hal musyrikat, mari kita lacak anjuran dia mengenai kitab-kitab suci lama. Nurcholish dengan jelas menganjurkan kaum Muslim hendaknya mempelajari dan menarik hikmah, dari kitab-kitab suci lama, dan kaum Ahlul Kitab mempelajari Al-Qur’an.

(Makalah Nurcholish Madjid, Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang, halaman 14).

Anjuran Nurcholish itu jelas bertentangan dengan hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Berkata Abu Hurairah:

Adalah ahli kitab, mereka membaca Taurat dengan Bahasa Ibrani dan mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk warga Islam. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah kamu sekalian membenarkan ahli kitab dan jangan kalian membohongkan mereka. dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (HR Al-Bukhari, kalimat yang akhir itu dari Al-Qur’an Surat Al-Ankabut: 46).

Dalam riwayat lain ada yang lebih tegas lagi:

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Umar bin Khatthab mendatangi Nabi saw dengan kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab, lalu Nabi saw membacanya, maka beliau marah lalu bersabda: ِApakah mereka bingung mengenainya wahai Anak Khatthab.Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah aku bawakan dia (pengganti Taurat) dalam keadaan putih lagi suci. Janganlah kalian menanyakan kepada mereka (Ahli Kitab) tentang sesuatu lalu mereka mengabarkan kepada kalian kebenaran maka kamu membohongkannya atau kebatilan maka kamu membenarkannya. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa saw keadaannya hidup maka tidak ada kelonggarannya kecuali ia mengikutiku. (HR Ahmad dalam Musnadnya, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ad-Darimi dengan lebih sempurna. Hadits ini punya banyak jalan menurut Al-Lalkai dan Al-Harawi, maka penulis Al-Fikrus Shufi, Abdur Rahman Abdul Khaliq menyebutnya hadits hasan).

Hadits tersebut adalah pokok mengenai penjelasan manhaj (metode pemahaman) Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh seorang pun mencari petunjuk –untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada Allah dan memperbaiki diri– kepada ajaran yang tidak dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hatta walaupun dulunya termasuk syari’at yang diturunkan atas salah satu nabi yang terdahulu, bila tanpa pembolehan dari Allah dan rasul-Nya. (Tasawuf Belitan Iblis, hlm. 6).

Masalah Umar membawa-bawa lembaran Taurat itu juga pernah saya tanyakan kepada Nurcholish Madjid 1986 dengan saya sebut ada hadits tentang Umar bin Khatthab dimarahi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti tersebut di atas.

Jawaban Nurcholish terhadap peristiwa yang terdapat dalam hadits itu hanya dengan: Itu saya kira, menurut saya tergantung pada kesempatan, situasi, jadi hadits itu harus dibaca dalam situasi apa, sebab para ulama dahulu itu banyak sekali yang mempelajari Taurat juga, ucap Nurcholish sambil mencontohkan Ibnu Taimiyah.

Jawaban itu, di samping tidak seimbang, karena hadits dijawab dengan ‘Saya kira’, dan juga beralasan adanya ulama yang mempelajari Taurat. Alasan Nurcholish itu sama dengan menjadikan suatu pengecualian sebagai suatu perintah umum. Misal, orang yang sedang mengubur jenazah tidak dilarang menginjak-injak kuburan lantaran agar tanahnya tidak ambleg. Hukum umumnya dilarang duduk di atas kuburan, termasuk menginjak-injak kuburan. Tetapi kasus menginjak-injak kuburan karena sedang menanam jenazah itu pengecualian, sebagaimana ulama yang ingin meneliti penyelewengan-penyelewengan dengan mempelajari Taurat. Itu adalah keadaan khusus. Jadi tidak bisa dijadikan anjuran.

Dikutip dari: Ada Pemurtadan Di IAIN; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.