Ahli Kitab

0

Nurcholish memasukkan watsaniyin (penyembah berhala/paganis) India, China, dan Jepang sebagai ahli kitab, dengan alasan mereka itu mempunyai kitab suci yang intinya tauhid, karena setiap bangsa telah berlalu padanya nadzir (pemberi peringatan).

Hal itu Nurcholish nisbahkan kepada Abdul Hamid Hakim dengan mengutip Kitabnya, Al-Mu’inul Mubin, Juz 4 yang jumlah halamannya 168 halaman termasuk 3 halaman daftar isi dan halaman terakhir kosong itu (kalau yang terbitan Bulan Bintang Jakarta).

Kutipan Nurcholish itu ada beberapa persoalan. Pertama, dikutip bagian yang mungkin dianggap sesuai dengan kepentingan Nurcholish saja. Kedua, Abdul Hamid Hakim mengaku mengutip dari Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, diringkas dan diubah, mengenai jawaban pertanyaan masalah bolehkah menikahi wanita China yang diharapkan masuk Islam . Ketiga, Nurcholish tidak komprehensif dalam mengemukakan pengertian, hanya mengutip sebagian. Keempat, arah pembahasan berbeda. Abdul Hamid Hakim menguraikan tentang pernikahan dengan musyrikat, jadi arah pembahasannya tentang menikahi wanita China kalau diharapkan masuk Islam. Dan kalau wanita yang dikawini menjadi murtad maka cerai. Abdul Hamid Hakim juga mengutip tentang peringatan Rasyid Ridha agar tidak mengawini wanita Nasrani kalau dikhawatirkan akan menarik laki-laki Islam menjadi agama wanita seperti perkawinan dengan wanita Eropa yang banyak terjadi. Terlepas dari itu, Nurcholish Madjid perlu mempertanggungjawabkan pula, benarkah watsaniyin /berhalais atau paganis India, China, dan Jepang itu termasuk Ahli Kitab seperti Yahudi dan Nasrani?

Kalau alasannya karena mereka dianggap memiliki kitab suci karena setiap bangsa itu telah berlalu padanya utusan, maka bukankah penyembah berhala Arab justru lebih afdhal untuk dimasukkan sebagai Ahli Kitab? Karena musyrikin dan musyrikat Arab itu jelas-jelas mereka berhaji mengikuti Nabi Ibrahim dan Isma’il.

Kenapa justru musyrikat hanya dipredikatkan kepada wanita Arab padahal mereka justru pengikut Nabi Ibrahim yang jelas memiliki shuhuf (kitab)?

Sekalipun Nurcholish Madjid mengatakan mengutip dari sana-sini, namun hal itu tidak akan bisa cuci tangan begitu saja, karena Nurcholish bahkan menjadikan kutipan-kutipannya itu sebagai landasan pemikirannya, padahal apa-apa yang dia kutip itu sama sekali tidak seperti yang Nurcholish maksudkan. Dalam masalah ini saja Nurcholish Madjid telah memlintir Abdul Hamid Hakim ulama Sumatera Barat , bahkan sebelumnya tadi Nurcholish Madjid telah memlintir Imam Ibnu Taimiyyah ulama terkemuka tingkat dunia, dalam masalah sangat mendasar yaitu makna Islam.

Konsekuensi logisnya, kalau watsaniyin/berhalais –penyembah berhala itu termasuk ahli kitab, musyrikat itu hanya musyrikat Arab, dan Al-Islam itu dianggap seluruh pengikut para nabi sampai kini, maka semua agama sekarang ini diterima oleh Allah selain agama berhala Arab. Muslimah bisa dinikahi oleh siapa saja kecuali penyembah berhala Arab. Ini sangat bertentangan dengan akidah tauhid Islam.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan: Lafal asy-syirku (syirik) dalam Al-Qur’an seperti Firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. (QS At-Taubah: 28).

Itu mencakup seluruh orang kafir, baik Ahli Kitab maupun lainnya, menurut umumnya para ulama, karena lafal syirk di situ tersendiri dan tanpa disandingi, dan kalau lafal musyrikun (orang-orang musyrik) itu disandingkan dengan lafal Ahli Kitab maka menjadi dua macam.

Pemahaman musyrikat hanya musyrikat Arab itu harus diberi dalil untuk menunjuk bahwa yang dimaksud hanya wanita musyrik Arab. Tanpa menunjukkan dalil, maka pengkhususan hanya musyrikat Arab itu tidak bisa diterima secara syar’i. Di samping itu, pemahaman Nurcholish itu bertentangan dengan kaidah: Al-‘Ibratu bi’umuumil lafzhi laa bikhushuushis sabab, pengertian ungkapan itu pada lafalnya secara umum bukan pada sebab tertentu.

Alur pemikiran Nurcholish bersifat kontradiktif. Innad diina ‘indallaahil Islaam (sesungguhnya agama di sisi Allah itu Al-Islam), Al-Islamnya diartikan umum, bukan Islam khusus yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam saja. Demikian pula Al-Islam pada surat Ali Imran ayat 85. Sedangkan musyrikat yang sifatnya umum diartikan khusus musyrikat Arab.

Mengenai pengertian lafal Al-Islam, bisa ditelusuri adanya peristiwa Abdullah bin Salam dan kawan-kawan yang mereka itu beragama Yahudi kemudian masuk agama Islam dan masih mengikuti aturan Yahudi tentang diharamkannya beberapa macam makanan yang hal itu dihalalkan dalam Islam, ternyata menjadi penyebab turunnya ayat: Udkhuluu fis silmi kaaffah. Masuklah kalian ke dalam Islam dengan sempurna. Kalau benar yang dimaksud Al-Islam di dalam Al-Qur’an tersebut masih tetap bersifat umum mencakup pengikut nabi-nabi terdahulu walaupun sudah datang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti yang Cak Nur maksudkan, tentunya Abdullah bin Salam yang Yahudi masuk Islam itu dibiarkan saja masih mengikuti sebagian syari’at Yahudi. Pemahaman Nurcholish itu berarti kontradiksi dengan ayat dan kaidah. Ayat (lafal) al-Islam yang sudah ditakhsish dengan ayat agar masuk Islam (yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) dengan sempurna hingga pengertiannya menjadi khusus, malah Nurcholish artikan umum. Sedang ayat (lafal) musyrikat yang umum diartikan secara khusus (hanya wanita musyrik Arab) dengan alasan kebiasaan Al-Qur’an dalam menamakan orang musyrik. Kalau pemahamannya seperti itu, ungkapan-ungkapan Al-Qur’an itu banyak yang hanya untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Seperti akhir surat Al-Kafirun, artinya: Bagi kamu sekalian (orang-orang kafir) agamamu dan bagiku (Muhammad) agamaku. Pantas saja Cak Nur pernah membolehkan umat Islam mengucapkan selamat Natal, karena memang yang tertera dalam Al-Quran itu hanya bagiku (Nabi Muhammad seorang) agamaku. Cara seperti ini mengakibatkan perintah-perintah dalam Al-Quran tidak akan dipahami sebagai untuk umat Islam, karena banyak yang hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam Seperti: Katakanlah (wahai Muhammad) Dia Allah itu satu.

Sekali lagi, sekalipun Nurcholish bisa berkilah bahwa itu hasil kutipan, bukan orisinal pendapat Nurcholish, namun sebagai ilmuwan yang ingin membangun buah pikirannya untuk dimasyarakatkan mesti mengoreksi, apakah yang dikutip itu shahih atau tidak menurut kaidah agama. Sebab hal ini membahas agama. Di samping itu, apakah mengutipnya itu sesuai dengan inti permasalahan dalam pembahasan itu. Dalam kasus ini, diputus rangkaian dan penyebabnya, sehingga arahnya berbeda antara yang dimaksud pihak yang dikutip yakni Abdul Hamid Hakim dengan tujuan Nurcholish sebagai pengutip. Selayaknya sebagai pengutip yang baik tidak menyelisihi pemahaman pembahasan teks yang dikutip.

Dikutip dari: Ada Pemurtadan Di IAIN; H. Hatono Ahmad Jaiz; Pustaka Al-Kautsar; MCB Swaramuslim – Navigasi & Konversi ke format chm  oleh: pakdenono

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.